Drs. H.R. Mambang Mit dalam Menjaga Budaya Melayu Riau

1 December 2010
By

Penduduk Provinsi Riau terdiri dari penduduk asli dan para pendatang yang berjenis-jenis suku bangsanya. Mereka tinggal di daerah-daerah tertentu dan kota. Suku Melayu merupakan penduduk asli dan mayoritas, terdapat di seluruh daerah Riau.  Melayu sebagai salah satu budaya yang sudah bertahan lama memberikan karakteristik yang unik bagi masyarakatnya. Bagaimanakah ciri dan karakteristik suku Melayu pada umumnya dan Melayu Riau pada khususnya?

Ciri kepribadian orang Melayu pada umumnya tidak lepas dari cara orang Melayu melihat dunia sekelilingnya, melihat dirinya sendiri, kesadaran agamanya, kesadaran terhadap kebutuhan hidup sehari-hari, kesadarannya di tengah-tengah orang lain dan orang asing, dan sebagainya. Semua itu mencetuskan sikap dan tingkah-laku orang Melayu dalam menghormati orang lain sesuai dengan tuntutan adat-istiadatnya.

Orang Melayu selalu mengidamkan anaknya menjadi ‘orang’, dalam pengertian menjadi orang yang berhasil, baik lahir maupun batin. Oleh sebab itu, mereka sangat memperhatikan pendidikan anak-anak sejak dini. Berbagai cara mereka gunakan sebagai media unutk menyampaikan ajaran agama dan adat resam, dengan harapan, ajaran agama dan adat resam tersebut tertanam dalam di sanubari anak-anak mereka.

Ajaran orang tua kepada anaknya bertujuan agar anak menjadi orang yang selalu sadar diri, tahu diri, tahu diuntung, dan mempunyai harga diri. Keempat hal ini saling berkaitan dan selalu dipompakan kepada setiap anak.

Harga diri. Orang yang tidak tahu diri tidak akan pernah dapat mempertahankan harga dirinya. Orang yang tahu diri berarti tahu kedudukannya dalam keluarga; tahu hak dan kewajibannya di tengah-tengah keluarga; tahu asal-usul keturunan keluarga; tahu kedudukan diri dan keluarga di tengah-tengah masyarakat (bangsawan atau orang biasa); sadar sebagai orang tak punya; sadar akan kewajiban dan tata-tertib yang dituntut adatistiadat yang berlaku; tahu akan tugas yang dipercayakan; sadar akan kekurangan diri dari segi pengetahuan, pengalaman, keterampilan, maupun rupa (bentuk fisik); ikut merasakan orang yang susah dan sulit; sadar bahwa dunia dengan segala isinya adalah milik Tuhan; serta sadar bahwa hidup ini hanya sementara.

Aspek tahu diri, sadar diri, sadar diuntung, dan mempunyai harga diri merupakan hal yang harus diajarkan kepada anak agar anak bertingkah-laku sesuai dengan tuntunan adat-istiadat yang berlaku. Dari keempat aspek tersebut muncul kemudian watak orang Melayu yang bersifat merendah, bersifat pemalu atau penyegan, bersifat suka damai atau toleransi, bersifat sederhana, bersifat sentimentil dan riang, dan bersifat mempertahankan harga diri.

Pola saling menghormati dan saling memberi yang dikenal dengan saling menanam budi masih hidup dalam masyarakat Melayu hingga saat ini. Bahkan kebiasaan itu tidak hanya berlaku untuk orang Melayu saja, tetapi juga untuk sukubangsa lain dan orang asing, terutama orang Cina yang sudah lama menetap di daerah ini.

Orang Melayu mengirim kue-kue buatannya sendiri kepada orang Cina sahabatnya yang sedang merayakan tahun baru. Sebaliknya, orang Cina membalas budi baik itu dengan mengirimkan tepung terigu, telur ayam, mercon, bunga api, dan sebagainya kepada orang Melayu yang sedang merayakan hari raya.

Kebiasaan memberi dan saling menghormati telah mentradisi yang terjalin dalam hubungan orang Melayu dan orang Cina hingga saat ini. Kebiasaan itu sudah menjadi adat kebiasaan yang meresap dan merupakan salah satu ciri sifat kepribadian orang Melayu.

Namun, masyarakat dan kebudayaan di mana pun selalu dalam keadaan berubah, sekalipun masyarakat dan kebudayaan primitif yang terisolasi jauh dari berbagai perhubungan dengan masyarakat yang lainnya. Tak terkecuali dengan masyarakat Melayu Riau. Terjadinya perubahan ini disebabkan oleh beberapa hal:

  1. Sebab-sebab yang berasal dari dalam masyarakat dan kebudayaan sendiri, misalnya perubahan jumlah dan komposisi penduduk.
  2. Sebab-sebab perubahan lingkungan alam dan fisik tempat mereka hidup. Masyarakat yang hidupnya terbuka, yang berada dalam jalur-jalur hubungan dengan masyarakat dan kebudayaan lain, cenderung untuk berubah secara lebih cepat.

Perubahan ini, selain karena jumlah penduduk dan komposisinya, juga karena adanya difusi kebudayaan, penemuan-penemuan baru, khususnya teknologi dan inovasi.

Wakil Gubernur sekaligus Ketua DPD Partai Demokrat Provinsi Riau, Drs. H.R. Mambang Mit, menyatakan bahwa saat ini telah terjadi pengikisan terhadap nilai-nilai budaya Melayu di Riau. “Karena itu, sangat perlu dilakukan langkah antisipatif, agar budaya Melayu tidak hilang terkikis oleh budaya modern,” katanya.

Pemerintah Provinsi Riau terus mengupayakan untuk meningkatkan daya tarik sebagai salah satu tujuan wisata. Wakil Gubernur Riau (Wagubri), HR Mambang Mit bahkan menekankan, agar seluruh instansi pemerintahan atau swasta kembali menghidupkan simbol-simbol kebudayaan yang ada. Selain itu perlu digesa peningkatan penyelenggaran event untuk menambah daya tarik daerah.

Salah satu putera Riau ini juga menyatakan bahwa Pemerintah Provinsi Riau berkomitmen dalam mempertahankan budaya daerah. Salah satu usaha yang dilakukan adalah dengan memasukannya dalam Visi dan Misi Riau 2020, yakni Terwujudnya Provinsi Riau sebagai Pusat Perekonomian dan Kebudayaan Melayu dalam Lingkungan Masyarakat.

Beliau juga mengatakan, dalam Visi Riau 2020 dinyatakan bahwa Pemprov Riau ingin menjadikan Riau sebagai pusat kebudayaan melayu di Asia Tenggara yang dibungkus dengan tatanan masyarakat yang agamis. Untuk itu Pemprov menaruh perhatian yang besar di samping kegiatan ekonomi dan lainnya. Nilai budaya Melayu yang sudah dikenal secara luas diwilayah Nusantara harus terus dijaga dan dilestarikan.

Implementasi yang dilakukan adalah dengan mengembangkan lembaga-lembaga adat Melayu, mengangkat kembali simbol-simbol budaya Melayu seperti bangunan yang bercirikan Melayu dipadu dengan arsitektur modern, selain itu mensosialisasikannya disekolah dalam bentuk pengajaran. Saat ini budaya melayu dimasukkan ke dalam mata pelajaran wajib yakni muatan lokal Melayu, selain itu juga dikembangkan tarian dan lainnya.

Di tingkat instansi, Pemerintah Provinsi Riau juga memberlakukan pakaian melayu dan juga menghimbau kepada pihak swasta untuk melakukannya terutama di hari khusus, yang tak kalah penting dilakukan Pemerintah yakni dengan  mempertahankan cagar budaya yang ada.

“Pemprov terus berkoordinasi dengan Pemerintah Kabupaten Kota berupaya untuk melestarikan cagar budaya yang ada didaerahnya masing-masing. Seperti yang kita lihat bertahan hingga saat ini Istana Siak, Candi Muara Takus, dan Masjid Raya Pekanbaru dan lainnya,” ungkap beliau.

Sumber 1, 2, 3, 4, 5, 6, dan gambar.

Tags: , , , , ,

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *